Balabalakang merupakan salah satu Kecamatan kepulauan yang ada di Kabupaten Mamuju sulawesi barat. Hamparan pasir putih serta biota laut lainnya menjadi daya tarik tersendiri di kepulauan ini. Selain daya tarik, pulau ini juga sedang dalam sengketa antara Propinsi Sulawesi Barat dan Kalimantan Timur. ke dua propinsi itu sama-sama mencantumkan kepulauan Balabalakang dalam wilayahnya. buktinya dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) keduanya memasukkan kepulauan Bala-balakang.
Ramli, salah seorang kru Lembaga Maritim Nusantara (LEMSA) beberapa waktu lalu mengunjungi pulau ini dan membagikan catatannya.
Kepulauan Balabalakang, saat ini secara administrasi termasuk dalam wilayah kabupaten Mamuju Propinsi Sulawesi Barat. jaraknya lebih kurang 90 kilometer dari daratan pulau Sulawesi. Kabarnya wilayah sekitar kepulauan ini tak hanya kaya dengan ikan, tapi juga minyak dan gas. Makanya jangan heran kalau propinsi Sulbar dan Kaltim saling menegangkan urat dan surat soal wilayah ini.
Sejenak pinggirkan dulu soal tegang urat dan surat itu. Kali ini kita bercerita soal penyu, makhluk laut eksotik yang kian terancam keberadaannya.

Penyu yang ditemukan di Balabalakang merupakan penyu hijau spesies yang terancam punah, mempunyai resiko dari perburuan, tertangkap oleh jaring dan pembangunan pesisir pantai. Keberadaan penyu hijau sangat jarang sehingga dilindungi oleh setiap Negara dan ditetapkan sebagai hewan dilindungi oleh IUCN dan CITIES Appendix 1.
Penyu hijau adalah hewan pemakan tumbuhan (herbivore) namun sesekali dapat menelan beberapa hewan kecil. Hewan ini sering di laporkan beruaya di sekitar padang lamun (seagrass) untuk mencari makan, dan kadang di temukan memakan macroalga di sekitar padang alga. Pada padang lamun hewan ini lebih menyukai beberapa jenis lamun kecil dan lunak seperti (Thalassia testudinum, Halodule uninervis, Halophila ovalis, dan H. ovata). Pada padang alga, hewan ini menyukai (Sargassum illiafolium and Chaclomorpha aerea).
Fibropapillomatosis merupakan salah satu penyebab utama kematian penyu. Adanya tumor ini dikarenakan nitrogen pada alga yang dimakan dan kemudian meyebabkan penumpukan “ascade gizi”.
Kelebihan nitrogen disimpan dalam rumput laut dalam bentuk arginine, asam amino. Karena penyu laut adalah herbivor, mereka harus mengkonsumsi dua kali lebih banyak dari ganggang untuk mendapatkan asupan kalori yang sama dari ganggag asli yang sebagian besarnya mengandung arginin tingkat tinggi.
Tumor ini dapat menyebabkan ancaman tersendiri untuk keberlanjutan hidup dan hal tersebut dapat mengarah pada kematian penyu. Penyu yang terkena Fibropapillomatosis di Balabalakang terdapat pada kulit dan leher yang menyebabkan kesulitan dalam menggerakkan leher dan badannya.
“dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk terus mengetahui penyebab lainnya, kita mungkin perlu mempertimbangkan kembali cara kita saat ini mengelola perairan,” ungkap Ramli.
Temuan ini sebagai bahan acuan bersama untuk konservasi dan pengelolaan penyu yang lebih baik serta dapat berguna untuk melindungi ikan, tanaman dan komunitas terumbu karang secara keseluruhan yang terkena dampak polusi.
Upaya konservasi dan manajemen perlindungan bukan hanya di atas kertas saja namun lebih kearah praktek pemeliharaan biodiversity yang rill guna menjaga kelangsungan hidup kita dan lingkungan alami hewan ini.
