Kapal ditambatkan pada salah satu tiang sangga penyusun jalan titian atas air adalah salah satu armada tangkap nelayan kecil yang ada di desa Monsongan.  Kapal berbahan fiber dan berkapasitas 2 GT (gross tonnage) ini adalah bantuan dari pemerintah daerah Kabupaten Banggai Laut kepada nelayan.  “Kapal bantuan ini adalah bentuk implementasi kebijakan pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan kecil yang ada di Banggai Laut secara umum dan Monsongan secara khusus.  Harapannya dengan kapal ini nelayan dapat meningkatkan produktifitas mereka serta berkontribusi pada ketahanan pangan khususnya pemenuhanan kebutuhan protein dari hasil-hasil laut baik di lokal Banggai Laut, regional provinsi dan skala nasional” ucap bapak Asdar yang menyambut kedatangan kami pertama kali ke lokasi tujuan.

Bapak Asdar (kanan) Pegawai Dinas Perikanan Banggai Laut

Untuk mencapai desa Mosongan ini cukup melelahkan dan berkesan dikarenakan rutenya yang di lalui berbeda-beda yakni udara, laut dan darat.  Mengambil titik start dari kantor pusat LEMSA di Makassar ke Luwuk dengan menggunakan penerbangan dengan jarak tempuh ±570 km.  Sesampai di bandara Luwuk perjalanan dilanjutkan dengan sarana angkut Fery yang ada di Pelabuhan Luwuk menuju ibukota Kabupaten Banggai Laut.  Dengan pemberangkatan malam tepatnya pukul 21:00 Wita, kapal fery yang ditumpangi bergerak menuju bagian timur negara kepulauan Indonesia dengan waktu tiba saat pagi hari.  Setiba di ibukota Banggai Laut selanjutnya dengan melalui rute darat menuju ke bagian selatan ke tujuan Desa Monsongan.

Sebagai catatan bahwa agenda LEMSA kali ini ke Monsongan adalah melakukan pandampingan nelayan kecil dalam pengelolaan perikanan yang lebih baik melalui kerjasama dengan Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) dan Burung Indonesia.  Sasaran pendampingan nelayan kecil ini cukup berdasar dikarenakan menurut bapak Zulficar Mochtar (Mongabay, 21 January 2019) selain tuna, perikanan tongkol dan cakalang adalah perikanan yang 70 persen hasilnya berasal dari tangkapan nelayan skala kecil.  Dengan fakta tersebut, nelayan skala kecil memegang peranan sangat penting bagi Indonesia untuk komoditas mahal di dunia saat ini. Keberadaan mereka, juga secara langsung ikut menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang bergerak dalam sektor perikanan. Jika sudah begitu, maka perikanan skala kecil bisa mewujudkan kedaulatan pangan nasional.

Pada konteks tersebut, LEMSA berupaya untuk berkontribusi pada tata Kelola perikanan skala kecil dengan implementasi di desa Monsongan.  Perlunya penataan dilakukan untuk menjawab tantangan keberlanjutan dari sumberdaya alam pesisir laut yang ada.  Kebergantungan yang tinggi pada tersedianya sumberdaya alam pesisir laut dalam menopang penghidupan nelayan kecil sehingga dengan pengelolaan yang lebih baik akan menjamin keberadaan sumber-sumber penghidupan di masa datang.  Di samping itu, hal ini juga akan memberikan sumbangsih pada key biodiversity area’s dengan usaha pelestarian ikan endemik Banggai Cardinal Fish di Banggai Laut beserta mikrohabitatnya.  Harapannya nelayan kecil akan sejahtera dan terciptanya keadilan lingkungan pada pesisir dan laut Monsongan.

Kembali ke armada kapal nelayan tangkap desa Monsongan dengan contoh hasil tangkapan seperti ikan-ikan karang kakap kerapu sunu, gurita, cumi (bahasa lokal: suntung), sotong (bahasa lokal: suntung batu),  cakalang (bahasa lokal: dehu) dan lainnya.  Nelayan kecil Monsongan umumnya merupakan suku Bajo yang bermukim di atas air tepatnya yang berada di salah satu dusun yakni dusun 5.

Dehu (Cakalang)
Pemukiman Atas Air dan Landskap Desa Pesisir Monsongan

Untuk ibu-ibu desa Monsongan selain urusan rumah tangga juga melakukan kegiatan pengolahan lanjutan dari hasil tangkap suami.  Salah satu produk olahan turunan ibu-ibu Monsongan adalah Sambal Roa yang berbahan dasar ikan roa (ikan julung-julung/Hemiramphus Brasiliensis) yang menjadi menu khas pelengkapan sajian makanan dan penambah cita rasa masyarakat Sulawesi Tengah.  Produk olahan ini nantinya akan dipasarkan oleh ibu-ibu untuk mendapatkan hasil dan sebagai tambahan bagi ekonomi rumah tangganya.

Mendengar Cerita Sore Ibu-ibu Nelayan Monsongan

Ucap syukur yang teramat sangat setelah selesai bercerita panjang dengan ibu-ibu, kami mendapatkan cumi dan sotong gratis hasil dari tangkap nelayan kecil di perairan laut Monsongan yang segar dan siap untuk disantap dengan Sambal Roa……..!!!KERAMAHAN yang luar biasa….salut bagi nelayan dan ibu-ibu Monsongan….Salam. (NNN)

Cumi dan Sotong Hasil Tangkapan Nelayan Monsongan

Sumber: Fasilitator Lapangan LEMSA (Izal & Fajar)

Editor: Tim Media LEMSA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *