Penggunaan pesawat tanpa awak dalam bidang penginderaan jauh akhir-akhir ini semakin berkembang dsan menjadi perhatian banyak peneliti, mulai dari penggunaanya dalam menunjang aspek pembangunan yang bersifat spasial atau kewilayahan mulai dari pemanfaatan lahan tani dan pembangunan wilayah, tak terkecuali wilayah laut dan pesisir. banyaknya pembangunan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil berdampak pada berbagai aspek, salah satunya ialah sumberdaya perairan yang ada di pulau dan pesisir.

 “Pelatihan ini dilakukan untuk menjawab perkembangan teknologi dalam pengelolaan laut dan pesisir, dengan perkembangan teknologi dan tuntutan kemampuan teknis yang menyertainya maka kami pikir pelatihan ini akan sangat bermanfaat bagi mereka yang bergelut di bidang survey maupun bagi mereka yang ingin mengupdate ilmu pengetahuan” ungkap mukmin selaku direktur LEMSA.

Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 11-13 mei 2020 via online dengan menggunakan aplikasi ZOOM

Materi yang disajikan dalam pelatihan ini ialah

1.Konsep dasar pemetaan dengan Drone (11 mei 2020)

Materi ini berisi pengenalan Drone serta pemanfaatan Drone dalam bidang pemetaan, juga dibahas perkembangan pesawat tanpa awak dari waktu ke waktu.

2.Mekanisme pengoprasian, perencanaan terbang dan akuisisi data (12 mei 2020)

Materi ini berisi pengenalan device Drone secara teknis, menu aplikasi pengoprasian Drone , serta perencanaan misi penerbangan Drone.

3. Penggunaan data foto udara (orthomozaik dan DEM (13 mei 2020)

Setelah mengenal device dan cara mengoprasikan Drone, peserta kemudian dikenalkan sekaligus melakukan latihan pengolahan data hasil survey lapangan menggunakan Pix4D capture dan pix4D image.

Pelatihan ini diikuti oleh 83 orang dari berbagai instansi pemerintah, praktisi pemetaan, pengajar perguruan tinggi serta mahasiswa aktif.

https://www.youtube.com/watch?v=OBSby7UELBY

Pelatihan ini diakhiri dengan penyelesaian projek yang diberikan oleh panitia sebagai indikator keberhasilan pelatihan serta sebagai syarat mendapatkan sertifikat pelatihan dari LEMSA . “dari 83 peserta hanyalah 24 orang yang menyelesaikan projek, maka mereka itulah yang dinyatakan lulus dalam pelatihan kali ini “ ungkap panitia.

Tindak lanjut dari pelatihan ini ialah berupa aksi lapangan pemetaan kawasan mangrove menggunakan Drone di lantebung dan untia, yang merupakan salah satu area Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota Makassar.

https://www.youtube.com/watch?v=ulUJ2b3d4jo

Menurut Rizki selaku Manajer Program LEMSA ”aksi lapangan ini merupakan bukti manfaat penggunaan Drone yang paling nyata, karena area mangrovenya sangat luas, kita akan kelelahan jika melakukan tracking dengan berjalan kaki, dengan adanya Drone semua area dapat tercover dan efisiensi waktunya juga dapat”

“Dengan memperhatikan hasil pelatihan basic tersebut, selanjutnya juga direncanakan pelatihan tingkat lanjut atau kelas advance” tambahnya.

Secara luas seri pelatihan ini bertujuan meningkatkan skill serta pemahaman pemanfaatan teknologi di bidang pengelolaan sumber daya laut dan pesisir, kedepannya LEMSA akan mengadakan pelatihan dan kegiatan yang serupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *