identifikasi livelihoodPendahuluan

Kegiatan Penentuan Prioritas Kelompok Penerima Bantuan ke Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Barru Sulawesi Selatan ini dilakukan selama bulan mei hingga Juni 2011 dengan mengambil tempat di desa Pitusunggu dan Bonto Manai (Kabupaten Pangkep), desa Lawallu dan desa Lampoko (Kabupaten Barru). Kegiatan kunjungan ini adalah rangkaian proses penilaian kebutuhan kelompok-kelompok usaha keterkaitannya dengan Livelihood sector dalam program “Restoring Coastal Livelihood”, kerjasama LEMSA dan Oxfam GB di Sulawesi Selatan.

Dilatar belakangi perbedaan kondisi geografis, budaya, potensi local (sumber daya alam) dan ketersediaan pasar produksi pada setiap lokasi pelaksanaan proyek, membuat bentuk implementasi program direalisasikan dalam bentuk yang berbeda dan disesuaikan dengan konteks local.

Penggalian kebutuhan kelompok usaha dalam kaitan menentukan kelompok prioritas penerima bantuan untuk sector livelihood menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) yang difasilitasi oleh Staf RCL-Lemsa. Laporan kunjungan lapangan ini disusun sebagai bagian bentuk akuntabilitas dan sebagai acuan dalam menganalisa dan menetapkan kelompok prioritas penerima bantuan. Laporan ini juga bertujuan sebagai proses pembelajaran kepada berbagai pihak. Disusun dalam 3 bagian, yaitu:

Tujuan dan Hasil yang Diharapkan

Tujuan kegiatan ini adalah:

Membangun prioritas penerima bantuan awal dengan mempertimbangkan tingkat kerentanan-secara partisipatif

  1. Membuat Klasifikasi Kelompok sesuai dengan jenis Bidang Usaha
  2. Mengumpulkan informasi dasar yang berkaitan dengan akses pasar
  3. Melakukan Analisis Tingkat Kerentanan, Kekuatan & Kelemahan Kelompok Usaha, Akses Pasar dsb

Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah:

  1. Daftar Prioritas kelompok penerima bantuan
  2. Diketahuinya Jenis Bidang Usaha Kelompok prioritas
  3. Terkumpulnya informasi dasar yang berkaitan dengan akses pasar kelompok prioritas
  4. Daftar Final Kelompok Ekonomi Penerima Bantuan ‘awal’

Proses

Staf RCL-Lemsa melakukan koordinasi/konsultasi dengan aparat desa (kepala desa) dan CO untuk memastikan daftar calon kelompok dan atau jenis kegiatan usaha yang teridentifikasi pada assessment tahun pertama program RCL, memenuhi criteria sesuai dengan tingkat kerentanan, kelayakan usaha dan di dalamnya terdapat perempuan kepala keluarga yang mempunyai jumlah tanggungan yang banyak.

Pada hari kedua, dilakukan FGD pada masing-masing kelompok yang telah ada, alumni pelatihan Sekolah Lapangan dan jenis bidang usaha yang merupakan kegiatan ekonomi perempuan dan laki-laki. Disadari bahwa dinamika masing-masing kelompok berbeda, jenis bidang usaha atau kegiatan ekonomi yang berbeda serta persoalan di tingkat kelompok berbeda pula, sehingga kegiatan FGD ini dilakukan secara terpisah di masing-masing dusun/kampung dan desa.

Total Jumlah partisipan yang hadir pada FGD di 2 (dua) kabupaten adalah 150 orang yang terdiri dari: 131 perempuan dan 19 laki-laki.

Hasil

  1. Teridentifikasi 9 kelompok dan 7 kegiatan usaha di Kabupaten Pangkep dan Barru:
  2. 9 kelompok ekonomi perempuan dan laki-laki yang menyadari pentingnya struktur kelompok berfungsi sesuai dengan tanggung jawab, adanya laporan aktifitas produksi dan keuangan yang tertulis, penting adanya aturan kelompok yang mengikat anggota. Beberapa kelemahan lainnya yang mendasar di kelompok-kelompok yang ada adalah belum pahamnya kelompok terhadap cara pemasaran, pelebelan, pengemasan produk, perizinan usaha dan mendapatkan bantuan modal usaha dari instansi yang terkait
  3. Ada 7 jenis/bidang usaha yang merupakan lingkup kegiatan ekonomi perempuan dan laki-laki yang dilakukan secara pribadi, menyadari bahwa pembentukan kelompok yang secara konsisten mengelola dan memproduksi usaha merupakan pilihan yang tepat.
  4. Ada tabulasi data jumlah kelompok, penerima manfaat langsung dan tidak langsung (jumlah perempuan, laki-laki, perempuan dan laki-laki kepala keluarga) serta dukungan kapasitas yang dibutuhkan

Adanya daftar final kelompok dan atau jenis bidang usaha prioritas sesuai dengan bentuk dan dukungan yang dibutuhkan.

Analisis

  1. Kegiatan ini pada dasarnya dapat memberikan gambaran situasi kelompok, fungsi struktur, mekanisme/aturan kelompok, proses produksi, analisa kelayakan usaha, pemasaran dan jaringan pemasaran produksi dan penilaian kebutuhan serta bentuk dukungan yang dibutuhkan oleh kelompok dan kegiatan usaha yang ada.
  2. Meskipun 7 jenis bidang usaha belum memiliki kelompok namun pada dasarnya telah memiliki ketrampilan dasar yang menjadi modal utama memulai usaha di masa mendatang
  3. Kondisi kerentanan, kelayakan usaha, jumlah kepala keluarga perempuan yang memiliki jumlah tanggungan yang banyak adalah factor utama yang mendasari pemilihan bentuk dan dukungan implementasi yang dibutuhkan masing-masing kelompok dan atau jenis bidang usaha.

Rencana Tindak Lanjut

Penentuan kelompok prioritas penerima bantuan awal merupakan bagian dari rangkaian kegiatan untuk penguatan dan pembinaan kelompok di sector livelihood. Sehingga nantinya kelompok-kelompok yang ada dan terbentuk dapat menjalankan kegiatan ekonomi dan mencapai taraf kehidupan yang lebih baik.

Ada 7 kegiatan usaha yang pelakunya telah menyatakan kesiapan untuk membentuk kelompok baru yang didampingi dan difasilitasi oleh tim RCL-Lemsa. Sementara 9 kelompok yang telah ada, bersedia bekerja bersama dengan tim RCL Lemsa dalam rangka peningkatan dan penguatan kapasitas kelompok, akses pasar dan akses modal usaha.

Rekomendasi

Untuk tujuan dan bentuk kegiatan yang sama di masa mendatang, perlunya mempertimbangkan:

  1. Segera dilakukan pendampingan yang lebih intensif terhadap kelompokkelompok
  2. Semua tim yang terlibat memahami secara benar mengenai sector livelihood Sehingga di samping mendapatkan pengetahuan mendalam tentang kelompok dan jenis usaha yang terkait dengan lingkungan, kelompok peserta diskusi mendapat peluang yang lebih lama untuk menganalisis usaha yang dijalankan dan akan dijalankan

Bentuk pendampingan dan Pelatihan yang dibutuhkan kelompok:

Untuk 9 kelompok yang telah ada :

  • Pendampingan pembuatan proposal bantuan usaha untuk sasaran instansi yang terkait
  • Pendampingan akses pasar
  • Pelatihan pengelolaan organisasi/kelompok dan pelaporan keuangan
  • Pelatihan lanjutan mengenai cara pembuatan abon ikan yang berkualitas
  • Pelatihan pengemasan, pemasaran produk
  • Pelatihan produksi itik dan telur asin

Untuk 7 kegiatan usaha yang belum berbentuk kelompok:

  • Pembentukan kelompok baru dan pendampingan bagi 7 kegiatan usaha
  • Pelatihan pengelolaan organisasi/kelompok dan pelaporan keuangan
  • Pendampingan akses pasar
  • Pendampingan pembuatan proposal bantuan usaha untuk sasaran instansi yang terkait
  • Pelatihan lanjutan mengenai cara pembuatan abon ikan yang berkualitas
  • Pelatihan pengemasan, pemasaran produk
  • Pelatihan budidaya kerang

Dalam kaitan melakukan penguatan kelompok, peran CO harus lebih aktif dalam melakukan pendampingan. Dari pengamatan selama proses FGD dengan melibatkan CO, ditemukan bahwa pemahaman CO mengenai program masih lemah. Demikian halnya koordinasi di antara mereka. Demikian pula pengelolaan administrasi CO masih terjadi dualisme baik yang dikelola oleh mitra dan yang dikelola oleh Oxfam secara langsung. Hal ini menyebabkan keaktifan di antara CO menjadi berbeda. Diperlukan upaya peningkatan kapasitas CO untuk melakukan pendampingan kelompok, Pengelolaan administrasi lebih terkoordinasi untuk upaya mendukung pendampingan yang nantinya akan dilakukan oleh CO.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *