piot project transplantasi karang d pulau kodingareng, lemsa

Terumbu karang yang rusak bukanlah hal yang baik untuk dilihat dan dinikmati. Bagi nelayan, terumbu karang yang rusak berarti bahwa tak ada ikan target, yang berarti penghasilan menurun atau sulit diperoleh. Faktanya, kerusakan terumbu karang telah terjadi. Marine Science Diving Club melansir data hasil penelitian tentang kondisi dan status terumbu karang yang menyebutkan sekitar 60 % terumbu karang Makassar telah mengalami kerusakan. Maka keindahan dan penghasilan nelayan dengan demikian berkurang.

Upaya pencegahan dan perbaikan terumbu karang, mutlak harus dilakukan. Segera.  Pencegahan pada areal yang masih baik, dan perbaikan pada lokasi yang kepalang rusak.

Salah satu upaya rehabilitasi adalah transpalantasi karang. Ada beberapa macam tekniknya, seperti menggunakan beton, ban dan lainnya termasuk bambu. Media tanam berupa bambu adalah salah satu teknik transplantasi karang. Murah, mudah didapat, dan mudah dilakukan adalah alasan praktisnya. Soal murah dan mudah itu juga penting, karena perihal itu yang seringkali menentukan seberapa besar antusiasme komunitas untuk melakukannya secara mandiri.

LEMSA bersama komunitas gelar pilot project  transplantasi karang dengan media Bambu di pulau Kodingareng, Makassar
Voulenteer dan anak-anak pulau kodingareng, bermain sambil belajar melestarikan terumbu karang

Lembaga Maritim Nusantara (LEMSA) sebagai salah satu NGO yang memiliki kepedulian terhadap penghidupan nelayan pada awal bulan mei 2015 lalu bersama warga melakukan upaya rehabilitasi terumbu karang melalui transplantasi karang berbasis masyarakat di pulau Kodingareng, Kota Makassar. Ada sekitar 50 orang warga baik laki-laki maupun perempuan yang terlibat secara sukarela. Mereka mulai dari balita, anak-anak-anak, remaja, hingga dewasa dan bahkan orang tua. Selain itu, beberapa orang vooulenteer juga berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Ramli, Direktur Lemsa menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengajak semua lapisan masyarakat untuk selalu menjaga kelestarian bawah laut. Selama ini kita berpikir bahwa program rehabilitasi tergantung dari anggaran yang ada. Partisipasi dan dukungan semua pihak menjadi ujung tombak perbaikan lingkungan. Hal ini agar proses pelestarian lingkungan dapat berlangsung sinergis dan berkelanjutan.

Pulau Kodingareng adalah pulau yang berpenduduk sebanyak 4.475 jiwa yang sebagian besarnya bekerja sebagai nelayan. Ada beberapa cara penangkapan yang mereka lakukan, yakni memancing, memanah, menggunakan bagang, bahkan menggunakan bius dan bom. Bukan rahasia lagi jika pulau ini menjadi salah satu basis destruktif fishing di kota makassar, maupun sulawesi selatan. Hal ini pula yang menjadi salah satu alasan mengapa kegiatan ini dilaksanakan di pulau yang dapat dijangkau dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Kota Makassar ini.

lemsa dwas doing a reefs transplantation project at pulau kodingareng, makassarKegiatan transplantasi karang yang dilakukan bukan sekedar menargetkan bagaimana rehabilitasi dilakukan, tetapi juga bagaimana upaya tersebut dipahami oleh komunitas. Prinsip ini menjadi penting karena sebesar apapun upaya yang dilakukan tanpa dukungan komunitas maka resiko kegagalan semakin membesar. Tak kenal maka tak sayang, jika tak mengenal tujuan dan metode maka jangan harap dukungan dari komunitas akan diperoleh.

Beberapa rangkaian kegiatan seperti monitoring partisipatif dan kampanye penyadaran selanjutnya akan dilakukan mengikuti kegiatan pilot project ini.

Upaya pilot project hanyalah sebagian kecil dari upaya penyelamatan terumbu karang. Kegiatan-kegiatan seperti ini harus pula dibarengi dengan kebijakan yang baik dan efektif dalam segala konteks seperti penegakan hukum, perancangan peraturan yang efektif dan partisipatif, dan lain sebagainya. Tanpa itu, upaya kecil akan berserakan dan hilang begitu saja seiring kehancuran terumbu karang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *