+6282197215271 | info@lemsa.or.id

Pengembangan Ekonomi

Perempuan Pesisir: Ruang Penghidupan Keluarga Nelayan

Fokus program ini sebenarnya sederhana, namun memiliki makna yang mendalam. RCL berupaya memahami kapasitas perempuan dan kelompok usaha yang sudah ada di masyarakat, sekaligus melihat bagaimana mereka dapat diperkuat sesuai dengan kondisi dan kontek

16 April 2026 Admin
Perempuan Pesisir: Ruang Penghidupan Keluarga Nelayan

Di pesisir barat Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, sinar matahari pagi mulai menyinari laut, sementara suara ombak terdengar pelan menyapa. Itu menjadi tanda bahwa aktivitas kehidupan di desa telah dimulai.

Di desa-desa seperti Madello, Cilellang, Tamangapa, dan Boddie di Kabupaten Pangkep, laut bukan hanya pemandangan, tetapi menjadi sumber penghidupan, peluang, sekaligus tantangan bagi masyarakat.

Di tempat inilah sebuah upaya perlahan dimulai. Upaya ini bukan hanya untuk memulihkan mata pencaharian alternatif di wilayah pesisir, tetapi juga untuk melihat lebih dalam bagaimana perempuan berperan penting dalam mengelola sumber daya alam peran yang selama ini sering kurang mendapat perhatian dalam pembangunan.

Pendekatan program RCL bersifat partisipatif, dengan menekankan pada sikap lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, serta lebih mengamati daripada mengarahkan. Program ini tidak menggunakan cara-cara instan, tetapi berjalan melalui proses yang bertahap dan melibatkan masyarakat secara langsung.

Fokus program ini sebenarnya sederhana, namun memiliki makna yang mendalam. RCL berupaya memahami kapasitas perempuan dan kelompok usaha yang sudah ada di masyarakat, sekaligus melihat bagaimana mereka dapat diperkuat sesuai dengan kondisi dan konteks lokal masing-masing.

Tim RCL Lemsa mulai bergerak pada 28 Juni 2011 dengan menuju Desa Madello melalui jalan-jalan desa yang sederhana. Setibanya di kantor desa, tim menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan secara singkat dengan bahasa yang mudah dipahami oleh aparat desa.

Koordinasi awal ini menjadi langkah penting dalam membangun kepercayaan antara tim pelaksana program dan pemerintah setempat. Kepercayaan tidak muncul begitu saja, tetapi tumbuh melalui proses yang berjalan perlahan. Komunikasi yang terbuka, interaksi yang rutin, serta waktu yang dihabiskan bersama dalam berbagai pertemuan menjadi kunci terbentuknya hubungan yang baik antara tim dan masyarakat.

Madello sendiri memiliki keunikan geografis. Selain wilayah daratan, terdapat Pulau Panikiang yang dihuni sekitar 40 kepala keluarga. Pulau kecil ini seperti dunia tersendiri terpisah secara fisik, namun tetap menjadi bagian penting dari kehidupan desa. Untuk mencapai pulau tersebut, tim harus menyeberang laut, menghadapi angin dan arus yang tidak selalu bersahabat. Namun perjalanan itu justru membuka perspektif baru: bahwa akses, keterisolasian, dan kondisi geografis sangat memengaruhi bagaimana perempuan menjalankan usaha mereka.

Dua hari setelah Madello, tepatnya 30 Juni, kegiatan berlanjut ke Desa Cilellang. Di sini, suasananya berbeda. Interaksi masyarakat lebih dinamis, dengan aktivitas ekonomi yang sedikit lebih beragam. Namun satu hal tetap sama: perempuan memegang peran penting, meski sering kali tidak terlihat secara formal. Mereka mengolah hasil laut, mengelola keuangan rumah tangga, bahkan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga ketika hasil tangkapan menurun.

Memasuki bulan Juli, kegiatan dilanjutkan ke Desa Tamangapa pada tanggal 7 Juli dan Desa Boddie pada tanggal 8 Juli. Setiap desa menyuguhkan cerita yang berbeda. Tamangapa, misalnya, memiliki potensi sumber daya alam yang cukup melimpah, tetapi akses pasar masih menjadi kendala utama. Sementara itu, di Boddie, kelompok usaha perempuan sudah mulai terbentuk, meski masih membutuhkan penguatan dalam hal manajemen dan aturan kelompok.

Di setiap desa, metode yang digunakan tetap sama: Focus Group Discussion (FGD). Namun pelaksanaannya tidak pernah benar-benar sama. FGD bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang berbagi cerita. Di dalamnya, perempuan-perempuan desa duduk melingkar, sebagian dengan anak di pangkuan, sebagian lagi sambil sesekali menyiapkan kebutuhan rumah tangga. Suasana ini justru membuat diskusi terasa lebih hidup dan autentik.

Di Madello, misalnya, seorang ibu paruh baya bercerita tentang usahanya mengolah ikan menjadi produk olahan sederhana. Ia mengaku bahwa usahanya tidak selalu berjalan lancar, terutama ketika cuaca buruk membuat hasil tangkapan menurun. Namun ia tetap bertahan, karena tidak ada pilihan lain. Cerita seperti ini bukan hanya menggambarkan tantangan ekonomi, tetapi juga ketangguhan perempuan dalam menghadapi ketidakpastian.

Di Cilellang, diskusi mengarah pada pentingnya kelompok usaha. Banyak perempuan menyadari bahwa bekerja secara individu membuat mereka sulit berkembang. Namun membentuk kelompok juga bukan perkara mudah. Ada persoalan kepercayaan, pembagian peran, hingga aturan yang sering kali belum jelas. Di sinilah peran tim RCL-Lemsa menjadi penting, yaitu memfasilitasi pembentukan kelompok sekaligus membantu merumuskan aturan yang disepakati bersama.

Kegiatan di Pulau Panikiang yang berlangsung pada 9–10 Juli menjadi salah satu momen yang paling berkesan. Keterbatasan akses membuat perempuan di pulau ini harus lebih kreatif dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Mereka tidak hanya bergantung pada hasil laut, tetapi juga mulai mencoba usaha lain, meski dalam skala kecil. Diskusi di sini berlangsung lebih intens, karena setiap peserta benar-benar ingin didengar.

Salah satu hal yang menarik dari seluruh rangkaian kegiatan ini adalah bagaimana perbedaan kondisi lokal memengaruhi bentuk implementasi program. Tidak ada satu pendekatan yang bisa diterapkan secara seragam. Di Madello, fokusnya mungkin pada penguatan akses dan pengelolaan sumber daya laut. Di Cilellang, lebih pada pengembangan kelompok usaha. Sementara di Tamangapa dan Boddie, perhatian diberikan pada peningkatan kapasitas dan akses pasar.

Pendekatan kontekstual ini menjadi kunci keberhasilan program. Alih-alih memaksakan model tertentu, tim RCL-Lemsa justru menyesuaikan dengan kebutuhan dan potensi lokal. Hal ini terlihat jelas dalam proses penggalian kebutuhan kelompok. Melalui FGD, perempuan diberi ruang untuk menyampaikan apa yang mereka butuhkan, bukan sekadar menerima apa yang dianggap “baik” oleh pihak luar.

Dalam diskusi tersebut, muncul berbagai kebutuhan yang beragam. Ada yang membutuhkan pelatihan keterampilan, ada yang membutuhkan akses modal, dan ada pula yang membutuhkan dukungan dalam hal pemasaran. Namun di balik semua itu, ada satu kebutuhan yang sama: pengakuan. Pengakuan bahwa mereka memiliki peran penting dalam pengelolaan sumber daya alam dan ekonomi keluarga.

Program ini juga memperlihatkan bahwa perempuan bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga agen perubahan. Mereka memiliki pengetahuan lokal yang sangat berharga, terutama dalam hal pengelolaan sumber daya alam. Pengetahuan ini sering kali diperoleh dari pengalaman turun-temurun, yang jika dikombinasikan dengan pendekatan modern, bisa menjadi kekuatan besar.

Namun tentu saja, perjalanan ini tidak tanpa tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana memastikan keberlanjutan kelompok usaha yang telah dibentuk. Banyak kelompok yang awalnya aktif, tetapi kemudian mengalami penurunan aktivitas. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya komitmen anggota, konflik internal, atau keterbatasan sumber daya.

Untuk mengatasi hal ini, tim RCL-Lemsa tidak hanya berhenti pada tahap pembentukan kelompok. Mereka juga memberikan pendampingan dalam perumusan aturan kelompok. Aturan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pembagian tugas, mekanisme pengambilan keputusan, hingga pengelolaan keuangan. Dengan adanya aturan yang jelas, diharapkan kelompok bisa berjalan lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Di sisi lain, program ini juga membuka ruang bagi pemerintah desa untuk lebih terlibat. Koordinasi yang dilakukan di awal kegiatan bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa program ini sejalan dengan kebijakan lokal. Dukungan dari pemerintah desa juga menjadi faktor penting dalam memperkuat posisi kelompok usaha perempuan.

Seiring berjalannya waktu, perubahan mulai terlihat, meski mungkin belum signifikan. Perempuan yang sebelumnya ragu untuk berbicara di forum, kini mulai berani menyampaikan pendapat. Kelompok usaha yang awalnya belum terstruktur, kini mulai memiliki arah yang lebih jelas. Dan yang paling penting, ada kesadaran baru bahwa mereka memiliki potensi yang bisa dikembangkan.

Cerita dari desa-desa ini menunjukkan bahwa pemulihan mata pencaharian pesisir bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal pemberdayaan. Ia tentang bagaimana perempuan diberi ruang untuk berkontribusi, diakui perannya, dan didukung untuk berkembang. Ia tentang bagaimana pendekatan yang partisipatif dan kontekstual bisa menghasilkan perubahan yang lebih bermakna.

Pada akhirnya, program ini bukan hanya tentang apa yang dilakukan oleh Lemsa dan Oxfam GB, tetapi juga tentang apa yang dilakukan oleh perempuan-perempuan di desa tersebut. Mereka adalah tokoh utama dalam cerita ini—dengan segala keterbatasan, mereka tetap bergerak, beradaptasi, dan bertahan.

Dan di tengah suara ombak yang terus datang dan pergi, kehidupan di pesisir Sulawesi Selatan terus berjalan. Perlahan namun pasti, perubahan itu tumbuh—dari diskusi kecil di bawah naungan pohon, dari keberanian untuk berbicara, dan dari tekad untuk memperbaiki masa depan.

Publikasi Pertama : 13 April 2015

Publikasi Kedua : 16 April 2026

 

Bagikan: