+6282197215271 | info@lemsa.or.id

Konservasi Lingkungan

Kisah Peneliti dan Praktisi Kima Universitas Hasanuddin

Ujar-ujar lama “tak ada batang, akar pun jadi” hidup dalam banyak situasi terutama ketika pilihan semakin sempit. Di pulau-pulau kecil Indonesia Timur, pepatah itu menemukan bentuknya sendiri:

17 April 2026 Admin
Kisah Peneliti dan Praktisi Kima Universitas Hasanuddin

 

“Tak Ada Batang, Akar Pun Jadi” Ketika Kima Menggantikan yang Hilang

Ujar-ujar lama “tak ada batang, akar pun jadi” hidup dalam banyak situasi terutama ketika pilihan semakin sempit. Di pulau-pulau kecil Indonesia Timur, pepatah itu menemukan bentuknya sendiri:
“tak punya kambing, kima pun jadi.”

Kalimat itu sederhana, nyaris seperti candaan. Tapi di baliknya, tersimpan realitas tentang keterbatasan  yang perlahan berubah ancaman yang jarang disadari.

Di setiap hajatan (Pernikahan), makanan adalah simbol penghormatan. Di daratan, pesta besar hampir selalu menghadirkan daging kambing atau sapi sebagai hidangan utama. Namun di pulau, cerita itu berbeda. Akses yang terbatas membuat ternak menjadi mahal dan sulit didapat.

Sebagai gantinya, laut menyediakan jawabannya.

Kima atau yang dikenal masyarakat sebagai talibbo menjadi pilihan. Mudah ditemukan, tidak memerlukan biaya besar, dan cukup untuk memenuhi kebutuhan pesta. “Lebih gampang dapat kima daripada kambing,” kata seorang warga, menggambarkan kenyataan yang sudah dianggap biasa.

Namun justru dari kebiasaan yang “biasa” itulah masalah bermula.

Kima bukan sekadar kerang besar. Ia adalah makhluk laut yang tumbuh dalam waktu yang panjang bahkan terlalu panjang untuk terus diambil tanpa jeda. Dari telur hingga dewasa, kima membutuhkan waktu sedikitnya delapan tahun. Delapan tahun untuk bisa kembali melanjutkan siklus hidupnya.

Dan itu pun penuh risiko.

Dalam satu kali pemijahan, jutaan telur dilepaskan ke laut. Namun hanya segelintir yang bertahan. Dari satu juta telur, mungkin hanya sekitar 250 yang berhasil hidup hingga dewasa. Sisanya hilang, dimakan, atau tidak pernah sempat tumbuh.

Hanya 0,025 persen yang bertahan.

Angka yang kecil terlalu kecil untuk menanggung beban eksploitasi yang terus berlangsung.

Dampaknya kini mulai terlihat.

Di kawasan Kepulauan Spermonde, Makassar dan Pangkep, kima berukuran besar hampir tak lagi ditemukan. Penelitian yang dilakukan sejak 2005 hingga 2013 mencatat hilangnya beberapa spesies penting seperti Tridacna gigas, Tridacna derasa, dan Hippopus porcellanus.

Bukan berkurang.
Tapi hilang.

Yang tersisa hanyalah jenis-jenis kecil yang hidup menempel kuat di karang, sulit diambil. Sementara kima yang mudah dijangkau seperti kima tapal kuda justru menjadi target utama perburuan, karena hidup di perairan dangkal dan mudah diangkat.

Masyarakat tidak sepenuhnya bisa disalahkan.

Tradisi memanfaatkan kima sudah berlangsung lama. Ia bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari cara bertahan hidup. Saat musim buruk datang ombak tinggi, angin kencang, dan ikan sulit didapat kima menjadi cadangan terakhir.

Bahkan bukan hanya kima. Biota lain seperti bulu babi pun ikut menjadi sasaran.

Namun di tengah semua itu, muncul pertanyaan yang tak mudah dijawab:

Apakah masyarakat tidak tahu bahwa kima adalah satwa dilindungi?
Atau mereka tidak pernah benar-benar mendapatkan informasi itu?
Atau mungkin, kita semua yang memilih untuk tidak peduli?

Karena kenyataannya, ketika hidangan kima tersaji di meja, jarang ada yang menolak. Kita makan, menikmati, lalu diam.

Padahal, kima bukanlah syarat sebuah pesta. Ia bukan kebutuhan yang tak tergantikan. Namun kebiasaan yang terus berulang telah menjadikannya seolah wajar untuk diambil, tanpa memikirkan apa yang tersisa di laut.

Dan ketika laut tak lagi mampu menyediakan, saat itulah kita akan sadar bahwa yang hilang bukan hanya satu jenis biota, tetapi juga keseimbangan yang selama ini menopang kehidupan.

Upaya konservasi kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Penegakan hukum, penelitian, dan penyadaran masyarakat harus berjalan beriringan. Tidak cukup hanya menjadi wacana, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata melibatkan semua pihak, dari pemerintah hingga masyarakat di tingkat tapak.

Karena jika tidak, maka suatu hari nanti pepatah itu akan kehilangan maknanya.

Bukan karena manusia tak lagi membutuhkan pengganti,
tetapi karena yang bisa menggantikan sudah lebih dulu hilang.

Publikasi Pertama : 3 Juni 2015

 

Bagikan: