Makassar, 27 Februari 2016 — Lembaga Maritim Nusantara (Lemsa) yang tergabung dalam Jaring Nusantara, bekerja sama dengan Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Perkebunan Kota Makassar serta WWF-Indonesia, menyelenggarakan pelatihan Better Management Practice (BMP) bagi nelayan di Pulau Kodingareng, Makassar. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 25–27 Februari 2016 ini menjadi bagian dari upaya mendorong praktik perikanan berkelanjutan dan berkeadilan di tingkat akar rumput.
Sebanyak 30 nelayan yang merupakan perwakilan dari kelompok nelayan tangkap dan budidaya binaan Pemerintah Kota Makassar ambil bagian dalam pelatihan ini. Mereka diposisikan sebagai aktor utama dalam mendorong pengelolaan sumber daya laut sekaligus sebagai ujung tombak dalam penerapan panduan praktik perikanan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Pelatihan ini berangkat dari permintaan langsung oleh nelayan melalui jaringan Lembaga Maritim Nusantara di tingkat tapak, terutama terkait penurunan jumlah dan ukuran ikan hasil tangkapan dari waktu ke waktu. Di sisi lain, Nelayan juga menghadapi persoalan ketidakadilan pasar, di mana harga ikan yang ditangkap dengan cara ramah lingkungan tidak memiliki perbedaan nilai dengan ikan yang diperoleh melalui praktik merusak.
“Pelatihan ini memberikan kami pemahaman tentang bagaimana menangani ikan setelah ditangkap agar kualitasnya tetap terjaga dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” ujar Rudi Dg. Tae, nelayan dari kelompok Burung Camar.
Kondisi tersebut menegaskan perlunya intervensi yang lebih serius dari pemerintah sebagai regulator, serta kesadaran konsumen untuk memberikan nilai lebih terhadap produk perikanan yang diperoleh secara bertanggung jawab. Tanpa dukungan tersebut, upaya nelayan dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut berisiko tidak mendapatkan insentif ekonomi yang layak.
Di tengah meningkatnya jumlah penduduk dan permintaan ikan sebagai sumber protein utama, tantangan pengelolaan perikanan menjadi semakin kompleks. Pilihan yang dihadapi bukan sekadar soal pemenuhan kebutuhan pangan, melainkan bagaimana memastikan keseimbangan antara pemanfaatan dan kelestarian sumber daya laut melalui pendekatan yang berkelanjutan.
Melalui pelatihan ini, Lemsa bersama para mitra mendorong kolaborasi multipihak pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan akademisi untuk memperkuat dukungan terhadap nelayan yang telah menerapkan praktik perikanan ramah lingkungan. Upaya ini dinilai penting guna menjaga ketersediaan stok ikan sekaligus memulihkan ekosistem laut bagi generasi mendatang.
Materi pelatihan disampaikan melalui kombinasi presentasi, pemutaran video edukatif, serta sesi diskusi interaktif. Pengalaman praktis nelayan selama bertahun-tahun dalam menangkap dan menangani ikan juga menjadi bagian penting dalam memperkaya pembelajaran, khususnya terkait teknik menjaga kesegaran ikan pasca tangkap.
Selain peningkatan kapasitas, kegiatan ini juga menekankan pentingnya pencatatan hasil tangkapan nelayan sebagai basis data dalam penyusunan kebijakan perikanan. Informasi mengenai jumlah tangkapan, riwayat melaut, serta kondisi perairan dinilai krusial dalam menentukan strategi pengelolaan dan pemulihan stok ikan.
Sebagai tindak lanjut, Lemsa berkomitmen untuk mendorong lahirnya kebijakan yang memberikan jaminan harga bagi ikan yang ditangkap alat tangkap ramah lingkungan. Di saat yang sama, kampanye kepada masyarakat akan terus digencarkan guna meningkatkan kesadaran konsumen agar tidak membeli ikan hasil praktik destruktif.
Pelatihan ini menjadi langkah awal dalam membangun sistem perikanan yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga berkeadilan dan berkelanjutan secara ekologis.
Publikasi Pertama: 29 Februari 2016

Komentar