Kerusakan terumbu karang bukanlah sesuatu yang hanya dilihat lalu dibiarkan. Bagi sebagian nelayan, khususnya nelayan yang ikan target demersal, rusaknya karang adalah pertanda hilangnya ikan kerapu, kakap merah dan ikan berkualitas tinggi lainnya. Ketika karang rusak, ikan menghilang. Kehilangan itu pada akhirnya mengancam penghidupan nelayan.
Dalam situasi seperti ini, nelayan sering kali dihadapkan pada pilihan sulit: berpindah ke lokasi tangkap yang lebih jauh. Keputusan ini bukan tanpa konsekuensi. Biaya operasional meningkat, waktu melaut bertambah, dan risiko di laut pun ikut membesar. Banyak lokasi yang dulunya menjadi titik tangkap kini berubah menjadi hamparan kosong sunyi, tanpa kehidupan.
Data dari Marine Science Diving Club memperkuat kenyataan tersebut. Sekitar 60% terumbu karang di Makassar telah mengalami kerusakan. Angka ini bukan sekadar statistik; ia mencerminkan perubahan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir.
Antara Kerusakan dan Harapan
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah dan memperbaiki kerusakan terumbu karang, mulai dari aksi di tingkat lokal hingga kebijakan yang lebih luas. Tujuannya jelas: mempertahankan karang yang masih sehat dan memulihkan yang telah rusak melalui pendekatan rehabilitasi dan restorasi.
Salah satu metode yang banyak digunakan adalah transplantasi karang. Teknik ini dilakukan dengan memindahkan atau menumbuhkan kembali karang di area yang rusak. Dalam praktiknya, terdapat beberapa pendekatan seperti transplantasi langsung (direct transplantation), nursery in-situ, nursery ex-situ, fragmentasi (fragmentation), serta penggunaan substrat buatan.
Media yang digunakan pun beragam. Beton, ban bekas, hingga bambu menjadi pilihan yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Di antara berbagai pilihan tersebut, bambu menjadi salah satu yang paling mudah diakses oleh masyarakat. Selain murah, bambu juga mudah didapat dan sederhana dalam penggunaannya. Faktor-faktor ini penting, karena sering kali menentukan sejauh mana masyarakat dapat terlibat secara mandiri.
Belajar dari Praktik Lapangan
Penggunaan bambu sebagai media transplantasi bukanlah hal baru. Lembaga Maritim Nusantara (Lemsa) telah menerapkannya sejak tahun 2015. Praktik ini bahkan mendahului berbagai kegiatan serupa yang kemudian muncul, termasuk yang dilakukan oleh mahasiswa di Pulau Tangnga pada tahun 2024.
Namun, bagi Lemsa, transplantasi karang bukan sekadar soal teknik. Ada satu hal yang dianggap lebih mendasar: keterlibatan masyarakat. Lembaga ini meyakini bahwa keberhasilan restorasi tidak hanya ditentukan oleh metode yang digunakan, tetapi juga oleh kesiapan sosial komunitas yang terlibat.
Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak berhenti pada pemasangan media transplantasi. Tahap awal justru dimulai dengan membangun modal sosial mengajak masyarakat memahami masalah, mengenal solusi, dan terlibat langsung dalam prosesnya.
Sebanyak 50 warga Kodingareng Lompo, baik laki-laki maupun perempuan, terlibat dalam kegiatan ini. Mereka belajar, berdiskusi, dan mempraktikkan langsung teknik transplantasi karang. Keterlibatan ini menciptakan rasa memiliki terhadap upaya yang dilakukan.
Pulau Kosong, Kerusakan Nyata
Lokasi restorasi yang dipilih berada di Kodingareng Keke, sebuah pulau tak berpenghuni di selatan Kodingareng Lompo. Pilihan ini didasarkan pada temuan menarik di lapangan: kerusakan terumbu karang di pulau kosong justru bisa lebih parah dibandingkan pulau berpenghuni.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan manusia tidak selalu menjadi satu-satunya penyebab kerusakan. Namun di sisi lain, kehadiran masyarakat yang peduli justru dapat menjadi kunci dalam menjaga ekosistem. Inilah mengapa penguatan kapasitas masyarakat, termasuk dalam pengawasan laut, menjadi bagian penting dari program.
Dari Aksi ke Kesadaran
Pada awal Mei 2015, Lemsa bersama masyarakat melaksanakan transplantasi karang berbasis komunitas di Pulau Kodingareng. Kegiatan ini melibatkan berbagai kelompok usia dari anak-anak hingga orang tua serta sejumlah relawan.
Direktur Lemsa, Ramli, menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah membangun kesadaran kolektif. Selama ini, banyak yang menganggap rehabilitasi lingkungan bergantung pada ketersediaan anggaran. Padahal, partisipasi masyarakat adalah kunci utama keberhasilan.
Upaya ini juga tidak berhenti pada kegiatan awal. Monitoring partisipatif dan kampanye penyadaran dirancang sebagai langkah lanjutan untuk memastikan keberlanjutan program.
Lebih dari Sekadar Proyek
Pulau Kodingareng sendiri merupakan rumah bagi sekitar 4.475 jiwa, dengan mayoritas masyarakat bekerja sebagai nelayan. Berbagai metode penangkapan digunakan, termasuk praktik destruktif seperti penggunaan bius dan bom yang turut mempercepat kerusakan ekosistem.
Dalam konteks ini, transplantasi karang bukan sekadar proyek rehabilitasi. Ia adalah pintu masuk untuk membangun pemahaman, mengubah perilaku, dan memperkuat hubungan antara manusia dan lingkungan.
Namun demikian, upaya di tingkat komunitas tidak bisa berdiri sendiri. Dukungan kebijakan, penegakan hukum, serta peraturan yang partisipatif dan efektif tetap menjadi faktor penting. Tanpa itu, berbagai inisiatif lokal berisiko terpecah dan kehilangan dampak jangka panjangnya.
Pada akhirnya, menjaga terumbu karang bukan hanya tentang menyelamatkan ekosistem laut. Ini adalah tentang menjaga sumber kehidupan, mempertahankan penghidupan nelayan, dan memastikan bahwa laut tetap menjadi ruang hidup bagi generasi yang akan datang.
Publikasi Pertama : 15 Mei 2015

Komentar